Harapan Dan Nabi Palsu.
Dua titik.
Seorang lelaki yang tidak aku kenal namanya menancapkan mata ke arah kreta yang tengah melintas di tengah kota. Jakarta dengan padatnya manusia, harapan, depresi, beserta kriminal yang turut tampil di ujung majalah harian.
Ini titik pertama, sebelum ia menatap ke arahku yang menunggu Tuhan memberi rejeki hari ini. Menjadi hamba yang sabar adalah keahlian ku, namun tidak selalu untuk menjadi hamba yang taat.
"Mas, pesan harapan satu"
"Makan di tempat?" Jawabku. Bersiap-siap menyediakan.
"Tidak mas, dibungkus saja. Ingin dibagi-bagi nanti"
"Satu hari lagi akan ada perayaan patah hati mas, di ujung sana" tunjuk ku ke arah bangunan tua, konon katanya setiap tahun di Jakarta orang-orang akan berkumpul untuk merayakan apa yang patah dari dalam hati mereka.
"Terus, mereka akan tertidur seharian. Ada juga yang seumur hidup, tergantung seberapa parah apa yang dirasakan" tambahku.
"Tidak niat mas. Mental saya, mental baja"
"Ini mas, harapannya. Bayar seikhlasnya saja"
"Makasih ya mas"
Seperti yang aku harap, Tuhan selalu hadir tepat waktu. Entah itu melalui manusia atau cobaan yang tidak kita duga-duga.
Mobil tua melewati rute mewahnya. Beberapa kali berhenti untuk membagikan brosur berwarna merah cerah. Meski dari jauh melihatnya, warnanya yang mencolok terlihat meyakinkan jika dibagikan. Salah satu pelakunya datang ke arah ku.
"Nabi palsu akan tiba esok hari, jangan lupa datang ya pak" Ia memberikan aku brosur merah. Aku tersenyum menerimanya.
Titik kedua. Nabi palsu tiba di sana dengan janji-janji palsu yang ia tawarkan. Ini cukup menggiurkan, cukup menjual untuk beberapa orang. Biasanya kampanye ini dilakukan bersamaan dengan perayaan patah hati. Untuk meyakinkan para korban bahwa hidup akan indah pada waktunya.
"Jangan lupa, nabi palsu akan hadir untuk menyelamatkan hati yang patah!" Kampanye yang sempurna.
Tapi siapa juga yang perlu mereka. Kebanyakan Tuhan diatur oleh diri sendiri, meski banyak yang menyatakan kepercayaan itu sama namun pada akhirnya isi kepala punya hak cipta masing-masing. Entah itu yang keras kepala atau isinya yang luar biasa gila.
Seperti halnya aku yang mendatangkan harapan. Menyasar pada mereka yang kerap kehilangan, menebak-nebak bagian mana yang harus diutamakan padahal sejatinya apa yang sudah ditetapkan itu pula yang akan didapatkan.

Komentar
Posting Komentar