WASANA
Wasana
Kali ini aku ingin menulis bagaimana Tuhan mengirim seseorang padaku untuk menyederhanakan hal-hal yang biasanya aku anggap rumit. Satu wanita, selain ibu. Terlahir dalam rupa yang tidak pernah aku ketahui bagaimana, tumbuh kuat dan dengan bangga menyambut hari-hari berikutnya. Nona, aku menyayangimu.
Dulu seorang pernah berjalan jauh, ia menyusuri berbagai lembah kehidupan tanpa pernah memikirkan untuk tinggal pada rumah yang seperti apa nantinya. Tak ada bagian yang menarik pada setiap titik henti, tak ada yang benar-benar hidup pada setiap titik memulai. Cuma aku masih ingat bagaimana baiknya ia lelaki itu berteman dengan buku-buku baca miliknya. Tentang Pram yang terkurung, tentang Multatuli yang berjiwa besi dan tentang Semaoen yang tak kenal kuno. Dia mulai titik itu.
Aku juga tak lupa ia memiliki janji pada semesta yang cukup rumit untuk dijelaskan pada manusia. Taruhannya jiwa. Semakin aku memikirkan hal itu, semakin yakin pula bahwa hari itu akan tiba untuknya.
Namun itu sudah lama sekali rasanya. Jika melihat lagi ke belakang dengan ritme yang pelan, ada sedikit senyum kecil terpancar di wajahnya. Aku harap dia sehat, kuat dan tabah tentunya.
Kali ini tentangmu sayang. Cintaku yang tumbuh dari jauhnya bentangan jarak. Aku pun harus terbiasa membayangkanmu duduk di atas bangku yang terbuat dari kayu dengan renjana mengiringi semua manismu. Aku tahu itu bagian yang indah. Terang hingga petang lagi.
Aku rela untuk mewakilkan seluruh lelaki yang ada di bumi ini untuk menikahimu, menjadikan mu satu-satunya rumah untuk pulang, kasih untuk berkembang. Meski aku sadar bahwa akan ada beberapa hati wanita yang patah.
Selain itu aku juga senang sudah bisa membawamu dalam setiap apa yang aku harapkan.
Sebentar, biar aku pikirkan rencana kita setelah menikah. Baik, sudah. Kita akan melalui hal yang sulit, tapi tenang aku akan ada di sebelahmu untuk hal-hal yang rumit itu. Menjadi apa yang engkau harapkan sebagai satu-satunya manusia dengan keterbatasan. Aku akan membantumu untuk memilih mana yang lebih baik menyeduh secangkir kopi pagi hari atau teh.
Sampai di mana takdir merelakanmu untuk bersanding duduk berdua denganku. Saat binar memilih berpindah untuk menyinari bagian yang lain. Meski bulan malu-malu bersinar terang di bulan Januari. Aku akan menemanimu melalui semua itu.

Komentar
Posting Komentar