KENTARA

 

Konon katanya, hidup adalah pilihan.

Titik pertama.

3 tahun lalu saat cinta masih menjadi bagian abu-abu untuk dikemukakan dalam obrolan bersama keluarga. Seorang lelaki muda tanpa pemikiran hebat berjalan tenang dalam riuhnya hidup untuk gambaran masa depan.

“Kita akan hidup dengan apa yang kita rencanakan” Begitulah ucapnya pada sang kekasih yang berasal dari keluarga aparat di negeri ini.

Namanya Kenanga, wanita berdarah campuran Jawa dan Batak itu terlihat manis dengan lesung pipi apa bila ia tersenyum. Kulitnya yang seperti sawo setengah matang membuatnya mendapatkan predikat spesial dari sang kekasih yang kebetulan memiliki kriteria wanita timur tengah. Hidung yang mancung, rambut yang panjang, juga tatapannya yang tajam.
Untuk setiap cerita yang terlahir dalam suatu peristiwa tentu akan ada satu tokoh di mana ia menjadi telinga agar cerita itu tetap ada. Entah pada ingatan seseorang atau tertulis abadi dalam catatan kenangan yang tidak mungkin untuk dilupakan.

Tapi ini cerita 3 tahun setelahnya.

Dari balik jeruji besi perasaan indah itu berkelana menyusuri ruang dan waktu tanpa tahu ke mana akan berlabuh, hanya saja perasaan itu akan tetap berakhir dalam ketukan pintu “Rumah” meski tanpa pernah diberi izin masuk, tanpa pernah berharap untuk dianggap sebagai tamu.

Kesadaran demi kesadaran perlahan diraih dengan cara instan, mulai dari memikirkan betapa pemaafnya Tuhan untuk segala hamba nya yang melakukan kesalahan atau terkadang juga memikirkan kembali ingatan yang dapat membuatnya tenang. Kita tidak pernah tahu bagaimana seseorang mempertaruhkan kehidupan mereka untuk kemenangan yang tidak tahu kapan waktu untuk meraihnya. Tapi lelaki ini percaya, bahwa suatu hari cintanya akan bertemu, kasihnya akan berteduh, tekadnya yang belum padam akan terbakar dan tak menjadi abu.

Dari balik jeruji besi itu ia tawarkan segala kegelisahan, ia rengkuh segala derita, untuk esok dan menjadikan hal itu modal membeli bahagia. Waktu menjadi perantara, rindu mengiringi ketabahannya dan ikhlas menjadi kekuatannya.

Bawa aku menuju tempat yang engkau sebut surga
Tuntun aku menuju taman di mana cintamu selalu bermekar
Kita akan pulang
Dalam kepedihan yang tidak merumitkan
Pada rinai hujan yang menenangkan
 
Peluk aku, sebelum hilang
Tunggu aku, meski tidak seperti yang engkau harapkan

Komentar

Postingan Populer