KENTARA 2

 Kentara 2

Aku minta maaf, untuk semua yang terjadi tanpa menyadari bagaimana keinginan itu hancur satu persatu. Untuk setiap yang tumbuh tanpa pernah aku mengerti layu satu persatu. Maaf, telah menjadi tak seperti yang engkau idamkan dan kau inginkan. Mundur dan tidak mengupkan apa pun, pergi tanpa pernah memimpikan untuk pulang, kesakitan tanpa pernah meminta didoakan. Cukup aku yang menjadi itu, tanpa perlu kau tahu bagaimana setelahnya.

SEHARI SEBELUM HANCUR.

Hingga detik ini aku tidak berpikir bahwa esok adalah hari di mana aku ditarik paksa untuk menjauh dari cinta yang menahun telah menghidupi jiwa ini. Kekasih, masih adakah jalan pulang bagiku untuk sekadar merebah pada dirimu yang begitu tenang. Aku sadar kau pun sama denganku, merintih kesakitan untuk setiap fakta yang diceritakan.

Semenjak kehadiranmu bagiku bumi bukan lagi tempat untuk sekadar berpijak, lebih jauh dari itu sebagai tempat bertempur untuk memenangkan mu dari banyaknya hati yang ingin meraihmu.

Aku yang tidak sempurna ini, menginginkan mu yang mendekati sempurna.

Lihat, bagaimana aku hancur.

Melihatmu tergenggam hal yang tidak bisa untuk aku bantu melepaskanya. Bila benar tak ada yang lebih kuasa dari permintaan orang tua, akankah kebahagiaan bisa kita raih dengan cara menerima atas dasar bakti dan balas budi untuk yang kita sendiri saja tidak pahami apa yang kita jalani.

Tidakkah engkau ingin melawan hati?

Sementara aku terperangkap delusi yang begitu kentara. Melihatmu berjalan menuju ke arah pisah untuk kita. Menjauh dari jangkauan untuk ku yang hanya bisa melihat dari balik gelapnya keinginan, rancunya kenyataan.

Bukankah tak seharusnya aku kehilangan mu?

Seharusnya kita berdiri berdua, menyaksikan langit berganti warna. Mengetahui bersama apa yang datang dan apa yang pergi.

Komentar

Postingan Populer