KENTARA (PENUTUP)
Akhir.
Lalu aku mulai meruntuhkan satu persatu prasasti yang dahulu sangat aku nantikan untuk tetap bisa bertahan pada masa depan. Dibangun dengan resolusi tinggi, ternyata tidak senantiasa membuatnya bertahan hingga dalam jutaan hari.
Di sini aku menyaksikan bagaimana cinta itu tumbuh, bagaimana tawa itu tercipta dan bagaimana langkah kaki itu seharusnya berakhir pada tempat yang tepat. Walau hingga detik ini aku masih tidak paham bagaimana mendefenisikan cinta yang seharusnya itu menjadi bagian dari rahmat Yang Maha Pemberi.
Tidak serta merta perihal jabatan, busana yang dikenakan, pendapatan, atau sekadar warisan. Kelak, saat kita bertemu pada hidup yang terasa begitu singkat ini aku harap kau tetap menorehkan senyuman yang sama seperti saat kita bahagia atas cinta yang datang dan luka yang terlahir.
Ini adalah surat yang seharusnya dibaca oleh seseorang, tidak seharusnya berada dalam platfrom kecil seperti saat ini. Dalam beberapa kejadian ada banyak hal yang ingin aku ungkapkan bukan perihal arti dari memberi atau menerima tetapi lebih apakah berhak untuk seseorang menaruh tangan di atas takdir dua manusia yang masih sibuk untuk menerima bagaimana menafsirkan apa yang mereka rasa? Aku rasa tidak. Hidup tidak melulu tentang pencapaian, hidup juga tidak melulu tentang apa yang bisa engkau ikhlaskan.
Kali ini aku akan mengakhiri tulisan KENTARA tanpa harus berpikir pencapian yang luar biasa. Persetan pada persepsi manusia.
Jika menurutmu mencintai lebih baik dari pada dicintai barangkali ada yang salah dengan kita, lantas apa yang akan dimenangkan? Dalam beberapa kejadian pasrah bukan jawaban. Berkorban harus memiliki alasan. Bahagia juga tidak sesederhana apa yang direlakan. Kadang kita hanya takut untuk menerima kenyataan lalu berusaha mencari pilihan yang terasa masuk akal senyatanya itu menjadi perisai untuk menutupi betapa pengecutnya diri ini.
Aku juga bukan seorang peramal yang bisa menentukan esok akan seperti apa, namun aku tidak pernah takut untuk melihat bagaimana esok akan berakhir.
Sementara tokoh yang seharusnya terlahir dalam halaman ini lebih memilih untuk mati dalam pelarian yang menurutnya pantas dijadikan sebagai balasan atas kesalahan yang dahulu pernah dilakukan. Bagaimana juga, manusia berhak memilih karakter yang akan ia lakoni. Tanpa ditentang, tanpa harus diperumitkan.
Kisah ini berawal dari seorang rekan yang tersandung kasus sederhana lalu aku rangkai menjadi sedemikian rupa. Seperti yang saat ini engaku baca.
Sebelum menuntaskan bagian ini izinkan aku untuk mewakili atau mungkin mengapresiasi untuk dia yang rela bertahan meski tidak ditahan.
Setelah tidak denganmu, aku tidak ingin lagi mengawali hubungan dengan cara yang cekatan. Aku tidak ingin lagi membaca situasi dengan segala perasaan. Hilang dan tidak masuk akal bagiku lebih baik ketimbang beranggapan bahwa kau merasakan hal yang sama seperti aku rasakan.
Dari sini Kentara berakhir.
Salam hangat.
Tertanda : Abandria.

Komentar
Posting Komentar