KAMIS
Oh, iya. Bagaimana rasanya berlari jauh tanpa tujuan yang pasti, capek?
Pasti. Namun itu saja tidak cukup membuat kita untuk memilih sejenak agar
berhenti.
Rabu, dini hari.
Seorang lelaki mengendarai cap 70, sebuah kuda besi buatan Japan dengan
sejarah yang dieluh-eluhkan bakal membuat harga pada masa depan cukup mahal itu
pun kalau tidak dijual pada waktu yang pas. Semacam taruhan untuk investasi ke
depan atau lebih bisa cukup dikatakan “Meski butut, tapi masih butuh”
Pagi itu burung gereja yang tidak pernah aku ketahui menyembah Yesus
terbang bebas di atas kepala. Cukup seru jika dilihat dari bawah, tapi lumayan
tidak lucu jika dijadikan jokes. Seorang teman dengan kulit sawo matang
memintaku untuk menghadiri pesta ulang tahun kekasihnya, seharusnya namanya
Neli. Tidak masalah barangkali aku sebut dia Ningsi, biar lebih terasa Indo.
Ehe.
Ia memintaku untuk datang dengan harapan semalaman sibuk memikirkan surat cinta yang ia order beberapa hari lalu sebelum tanggal lahir kekasihnya itu menjadi momen yang paling muak aku tunggu. Bukannya tidak suka, hanya saja kecakapan dalam menulis tidak melulu harus dihadiahkan untuk ungkapan kasih sayang. Terkadang menulis untuk memaki beberapa hal juga seru kok. Karna aku akan mendapat bayaran atas apa yang dikerjakan apa boleh buat, meski gerimis pun akan aku kerjakan hanya saja asal di bawah atap rumah. Belum lagi menulis hal-hal lainnya.
Tulisan yang sederhana untuk mengawali malam itu agar baik-baik saja, seharusnya. Kurang lebih begini:
Apa benar cinta memerlukan temu untuk tumbuh?
Kalau iya, lantas bagaimana untuk mereka yang tidak pernah menatap tapi sudah memikirkan esok harus satu atap.
Meski aku tahu tulisan itu cukup buruk yang terpenting bayarannya cukup
membeli dua mangkok bakso. Belum lagi ada permintaan aneh yang sengaja ia
siapkan agar malam itu menjadi malam yang tidak terlupakan. Untuk Ningsi, tidak
untuk para tamu yang datang. Dia memintaku untuk menyumbangkan satu lagu, meski
tidak merugikan dari segi apa pun hanya saja masih terkesan murahan dari harga
yang telah kami tentukan.
Malam itu, lagu dari penyanyi terkenal aku bawakan. Tidak cukup romantis untuk acara ulang tahun, tapi cukup berkesan meski hanya untuk ku sendiri. Setelah sejurus aku pun pamit untuk pulang, lebih tepatnya mengungsi dari gempuran kasih sayang atas perayaan ulang tahun.
Kamis
Waktu berlalu begitu cepat, tidak sadar uang yang aku dapat akibat menulis puisi semalam tadi habis. Selain waktu begitu cepat, ternyata pengeluaran buat beli kebutuhan hidup juga begitu cepat habis. Namun aku cukup meluangkan waktu untuk menuliskan beberapa hal:
Selain senyum, tepuk tangan juga ada yang palsu.
Dengan hati yang tenang serta pikiran yang tidak suntuk, tulisan ini terlahir secara sengaja. Pada saat berdoa aku acap kali meminta agar diberi kemudahan untuk hal yang seharusnya tidak berhak membawa nama Tuhan. Bersujud sembari memikirkan hal yang asyik, rukuk dengan imajinasi yang tenang, dan berdoa tanpa menyertakan ketakutan. Lebih parah tanpa adanya gerakan apa pun. Aku sulit membedakan siapa yang lebih pantas untuk dikatakan sebagai “setan” apakah setan itu sendiri atau aku yang tidak tahu malu ini. Siapa juga yang meminta untuk menjadi manusia, jika tahu begini aku mungkin akan menolak untuk turun ke bumi. Kalau dipikir ulang lagi, jalan ninja yang begitu terlalu cengeng untuk aku yang sudah terbiasa tumbuh dengan cara ditumbangkan sana-sini.
Persetan pada takdir, aku hajar sekaligus.

Komentar
Posting Komentar