Jum'at.
Sebulan berlalu atas berbagai macam kejadian yang tak terduga. Mulai dari temanku yang putus cinta, ada juga yang kabur dari rumah agar dicap “Mandiri” versi acak. Aku sendiri masih sama, tidak ada di antara mereka semua. Hidup tenang, damai, sehat, dan juga sentosa adalah keinginan kecil untuk manusia yang tidak memiliki cita-cita terlalu tinggi seperti ku ini. Lagian apa itu cita-cita? Hanya sekumpulan imajinasi belum bulat, tetapi harus mengkaitkan perihal ini dan itu. Bagiku sudah cukup untuk menghayal sampai ke bulan sana, untuk cita-cita begitu sudahlah.
Bukan berarti kau harus menyerah pada mimpimu sendiri, hanya saja bangun dan sadar juga tidak terlalu buruk dari pada berjalan tapi tertidur. Awas ada pohon, cepat buka matamu. Takutnya nanti menabrak.
Kali ini ada cerita seru dari satu kisah sederhana sepasang anak manusia. Melalui kisah mereka berdua aku juga sadar bahwa berhubungan itu tidak hanya membahas soal cinta semata, tetapi ada materi dan masa depan mengenai akan jadi seperti apa kita kelak.
Sejenak aku rebahkan tubuh di atas kasur yang dulu terasa sangat nyaman sembari memikirkan bagaimana cara untuk merangkai sedemikian rupa kisah cinta yang tidak pernah nyata.
Jum’at.
Meski ada milyaran manusia di dunia ini tetap saja kita tidak bisa menentukan pada siapa rasa suka akan tumbuh lalu pada siapa cinta akan berlabuh. Kendati begitu kita juga tidak bisa menentukan sepenuhnya bagaimana perasaan itu akan berakhir.
Ia genggam tanganku, mengucapkan sumpah setia layaknya seorang ksatria yang tangguh. Aku tidak tahu apakah nafsu yang menuntunnya untuk melakukan itu atau kenormalan selumrahnya manusia yang menuntunnya. Lantas dengan cara yang sengaja hatiku jatuh cinta pada setiap kata yang ia lontarkan begitu mesra. Sepersekian detik kami menyatakan sebagai perwakilan diri sendiri akan berkomitmen dalam jangka waktu yang panjang untuk tetap bersama melalui hiruk pikuknya dunia.
Tidak ada yang salah untuk setiap perkara yang terlahir dengan cara sengaja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan untuk itu semua.
Namun apakah seorang wanita pernah memikirkan bagaimana busuknya mulut seorang pria? Saat sumpah serapah itu tercipta, saat janji-janji yang tidak akan selalu ditetapi itu terlahir.
Lihat saja bagaimana mereka harus bersusah payah.
Lagi-lagi temanku ini datang mengunjungi kerajaan yang sudah aku bersihkan semalaman. Kosan ebel, dekat perapatan ibu kota. Dengan mengendarai cap 70 miliknya itu, ia sisihkan terlebih dahulu bekal yang sudah dibeli dari minimarket terdekat. Tetap bukan jajanan terbaik darinya yang aku tunggu, melainkan rentetan cerita baru dari kisah cinta yang masih ambigu untuk diriku. Sudah kisah hidupku yang masih abu-abu, malah ditambah dengan hal beginian membuat warnanya semakin tak menentuk. Hah.
Katanya ia patah hati. Ini bukan yang pertama kali. Ini juga sudah untuk
cinta yang kesekian kali. Berakhir dengan hal yang tidak pernah ditentukan,
namun berawal atas harapan yang besar. Meski cukup bengis, aku masih memiliki
banyak tenaga untuk mendengar kisahnya.
Aku akan tetap bahagia pernah memilikimu,
Walau pada akhirnya bahagiamu bukan karenaku.
Kadang ada hal di mana hatiku tidak sejalan dengan logika,
Tapi pada akhirnya ingatan tentangmu yang menjadi pemenangnya.
Bayangan itu lenyap bersamaan asap yang mengudara. "Sialan"
Begitulah akhirnya. Sebelum aku menuliskan bagimana panjangnya cerita temanku atas hatinya yang patah siang ini.
Pelan tapi pasti emosi itu larut dalam kepasrahan. Diam sembari mengamati setiap gerakan bibir yang melontarkan kata demi kata perlahan mulai bisa untuk dicerna bahwa yang berpatah hati hanya ingin mengenang bagaimana sepinya pulang sendirian untuk rumah yang dipenuhi harapan.
Hingga pada akhirnya rasa itu diimbangkan.
Sisi yang lain:
Namanya juga manusia kadang bahagia, kadang juga terluka. Jadi masih maklum saja kalau kehidupan tidak selalu mengarah pada satu arah. Untuk setiap titik, koma, pastinya akan selalu ada jeda. Apa lagi perihal hubungan yang notabanenya masih sulit untuk ditebak akan ke mana arahnya.
Dan begini pula cerita itu berawal.
Namanya Roni, lelaki kelahiran Purwakarta. Terasa bengal sekali memang. Tapi, tak ada salahnya untuk mengenal lebih dekat agar penilaian tidak hanya sekadar semata. Berhubung Roni ini anaknya sederhana dan itu juga yang membuatnya jatuh cinta pada Rini. Ya, gadis berdarah sunda itu memang penuh misteri. Kadang sehabis mandi ia wangi, kadang juga tidak sama sekali. Ini juga aku tahu dari Roni. Mereka berdua sama saja. Sama-sama tidak wangi maksudnya.
Cap 70 yang legendaris itu bagaikan kreta kencana yang sempurna atau mungkin cukup untuk membawa sepasang manusia menuju tingkat yang lebih tinggi. Kau tahu buatan Japan tidak pernah mengecewakan apa lagi kalau soal per film-an. Namun bukan itu point yang ingin kita harapkan. Ehem.
Roni yang sudah seminggu ingin bercumbu dengan Rini dan Rini yang terus saja menahan keinginan tersebut. Aku tidak ingin membayangkan betapa sesaknya dada, namun Roni tetaplah Roni yang aku kenal. Dia itu manusia dengan seribu pemikiran. Begitu ada hambatan, maka akan cepat pula ditemukan jalan agar bisa terus merangkak ke depan.
Sampai Rini tidak bisa lagi menolak perasaan hangat itu. Tubuh yang sudah terkoneksi dengan getaran dari dimensi lain pun meneriaki setiap sel saraf otak Roni "Telanjangi".
Bisa bantu aku mewakilkan bagaimana selanjutnya? Coba pukul pahamu pelan saja dan kurang lebih seperti itu suara yang dihasilkan dari kolaborasi mesra Rini dan Roni. Cukup. Ternyata tidak. Roni ingin lebih dari ini. Kali ini pukul pahamu atau bagian tubuh berkali-kali. Nah, itu yang terjadi.
Aku yang masih sibuk mendengarkan bagaimana bisa seseorang membiarkan mereka begitu saja. Jangan tanya aku, aku juga tidak ingin tahu bagaimana akhir dari mereka berdua. Meski dengan air liur yang memasuki rongga mulut satu persatu pun aku tidak peduli.
"Ron, tolong lewati bagian ini. Sesuatu yang bukan aku merasa ngilu" kataku, meminta tolong. Roni hanya cengir. Sialan, jari tengah aku keluarkan.
Sementara Roni yang masih putus asa terus saja mengisi ruangan kecil yang diberi nama "kamar" itu dipenuhi dengan sumpah serapah. "Rini tidak perawan, Rini yang memiliki selangkangan bau, dan Rini.. Iya, Rini. Hanya dia yang aku sayang"
Lantas aku mengambil alih pembicaraan. Bagaikan nahkoda kapal yang sudah meramal masa depan agar tidak berakhir sebagaimana film titanic berakhir. Itu bukan akhir yang baik.

Komentar
Posting Komentar