Selasa
Selasa.
"Gimana kabar?"
Satu pesan yang berhasil membuatku goyah, hari yang seharusnya terasa begitu biasa saja namun kini terasa begitu berbeda.
Untuk seukuran lelaki kerdil sepertiku ini tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihat wanita yang aku idamkan selama menahun mengirimi pesan.
Cinta hadirnya nyata, luka pun ikut menyapa. Bahagia? Hanya tujuh huruf yang menurutku fiksi di dunia nyata. Aku turuti kata hati, meraih cinta di antara ayat-ayat sakti.
"Sangat sehat. Bahkan aku bisa melihat matahari dengan mata telanjang" balasanku, untukmu yang pernah membuatku patah.
Ku ucapkan pisah pada kabar selanjutnya. Terkadang angin yang berhembus dengan kencang tanpa arah yang menentu bisa saja menjadi bencana atau yah tetap hanya hembusan angin biasa.
"Maaf" pesan selanjutnya.
Entah bagaimana aku menjelaskannya pada dunia. Bahwa ia yang satu-satunya ada di dalam dadaku. Kau tahu bagiku yang kesehariannya hanya membaca buku, melihat alam, tidak biasa mendapati kondisi seperti ini.
Baik, aku hentikan berbalas pesan ini. Tak ada gunanya juga. Satu-satunya yang hilang itu aku, dan bagaimana aku kembali itu bukan urusanmu.

Komentar
Posting Komentar