Jeratan konvensional.
Mati habis sudah keyakinan ini menahan gempuran iman kanan-kiri. Kepercayaan yang terkoyak habis sesaat obrolan usai. Musik pas-pasan pun turut menyorot kegilaan yang merobek kewarasan.
Kawan, katanya untuk menjadi bintang kau harus tahan banting. Oh, teman. Sayang sekali, aku tidak ingin dibanting maka jadilah bintang sesukamu.
Pulang, kembali pada topik utama. Di mana kau menjadi pemeran utama dalam cerita pada umur yang terbilang sedikit. Akibat sebulan lalu dirayakan dengan meriah.
Doa, harapan, celoteh, pasrah. Terbang begitu saja melewati kepala. Bayangkan esok saat terbangun kau kekurangan berat badan, namun sial beratnya ekspektasi mereka malah bertambah.
Sementara bagian hidup yang cukup favorit sudah tidak ada. Sedikit saja menyimpan privasi, mulut mu sendiri membongkarnya. Sudah coba mengantongi kenyamanan, keadaan memaksa mu untuk berbaur.
Tidur pun percuma, toh kau akan bangun sendiri meski tanpa ada yang membangunkan. Dindin yang kau idam-idamkan sudah tidak mampu meredam berisiknya harapan.
Sampai di mana kau akan tersadar bahwa diam dan tidak melakukan banyak hal adalah kemewahan.


Komentar
Posting Komentar