KETERGANTUNGAN ADALAH MASALAH.
ang ini aku penyembah kata, mungkin malam nanti aku adalah hamba sahaya. Tanpa perantara apa pun, aku bisa menjadi apa pun. Meski KETERGANTUNGAN ADALAH MASALAH, namun tidak menggantungkan apa pun juga masalah. Entah apa yang tengah aku tulis, tetap saja tidak mengubah apa pun, AKU TETAP SEORANG BAJINGAN.
Biasanya kau akan menerima wejangan paling keren dalam hidup itu pada waktu malam hari, nongkrong dengan seseorang yang sudah sukses di usia muda, atau dengan manusia yang sudah berhasil bekerja di bawah perusahaan yang memiliki nama begitu harum. Mereka semua sama posisinya, hanya malam hari tadi saja yang tidak.
Seorang temanku, bernama Suep. Ia bercerita soal betapa brengseknya kehidupan ini. Ya, hidup memang brengsek dan kita harus dipaksa untuk menikmatinya. Suep tengah menikmati waktunya sebagai manusia yang merdeka, malam hari. Intuisinya untuk menjadi seorang manusia yang bebas hanya pada waktu-waktu tertentu, tidak bisa aku pastikan namun tidak bisa juga aku batasi.
Di tengah sela kenikmatannya itu ada seseorang dengan pakian rapi, dari atas sampai bawah. Sumpah, dari atas sampai bawah. Seseorang yang sudah berjuang keras untuk dirinya sendiri, seseorang yang telah merelakan waktu mudanya untuk tujuan hidupnya. Ia tangguh, TAAT, kuat, tapi tidak suka dengan orang yang bebas merdeka. Ada kejanggalan baginya ketika ia mengetahui hal itu.
INGAT. INTUISI MANUSIA.
Suep yang mengamati perawakannya tentu merasa tertekan. Sedikit. Meski begitu tidak ada keinginan di dalam hatinya untuk mengikuti jejak brengsek yang ada di depannya.
"Waktu adalah hal yang sangat berharga untuk kau lalui dengan cara biasa saja." Ucap lelaki dengan pakaian mewah itu. Suep yang tidak tahu menahu, terpaksa harus menelan bingung. Ini dunia yang penuh dengan tanggung jawab, moral, dan untuk kau meraihnya harus disertai dengan perjuangan yang tiada banding. Keren, tegas, dan BRENGSEK.
Mengomentari kedamaian orang lain dengan berdasarkan kedaimaian diri sendiri. Bukankah untuk menjadi anjing anda hanya perlu punya bulu, taring, dan menggongong? Untuk apa bersibuk diri menamai sesuatu tanpa pernah memberi sesuatu?
"Mau jadi orang yang seperti apa anda, kalau hanya berusaha pun tidak punya. Lihat saya, penuh dengan perjuangan. Penuh dengan aksi." Pria brengsek ini memahami betul cara untuk mengambil kedudukan lalu duduk dan merayakan.
"Maaf tuan. Barangkali hidup memang benar perihal apa yang tengah kita perjuangkan. Namun dalam beberapa keyakinan, hidup adalah hidup, bukan apa yang tengah engkau tafsirkan. Menjadi benar memanglah penting, tapi memanusiakan manusia itu lebih penting. Anda mungkin mafhum betul cara untuk mendaki puncak tertinggi, namun anda tidak menyadari apa itu keadilan yang tertinggi."
"Ketergantungan anda adalah masalah yang tidak bisa anda sadari. Permasalahan anda adalah yang tidak bisa anda lihat. Berlindung dibalik kebenaran anda sendiri tanpa melihat kebenaran yang lain. Mungkin semua orang menginginkan hidup seperti anda ini, menyelesaikan segala hal denga benar, menemukan jawaban yang anda inginkan, tapi atas dasar keyakinan anda barangkali lupa bahwa keyakinan itu bersifat subyektif. Di antara kebenaran itu sendiri ada kebenaran lagi. Tidak kah anda mendapati kabar bahwa yang mati hari ini adalah mereka yang hidup kembali?" Suep mendapati dirinya di antara kemajemukan.
Suep diam untuk sesaat. Ia mendapati pria itu adalah apa yang ia takuti pada esok hari. Sesuatu hal yang bisa datang kapan saja, lalu mempertanyakan masalah pencapaian. Ketergantungannya pada sebuah pencapaian yang ia sendiri tidak meyakininya. Beberapa orang justru kerap mempertanyakan itu, seakan-akan kita harus mengikuti kemauan di luar dari yang kita sendiri tidak pahami.
.jpeg)

Komentar
Posting Komentar