MINGGU.

 Minggu.

Keheningan ini terus berlanjut sebagian kecil disebabkan oleh kepergian Roni dari kosan kecilku. Ini Minggu, aku tidak akan lupa bagaimana setiap kejadian buruk yang entah kenapa kerap kali terjadi pada hari ini. Hanya tanggal dan bulan yang berbeda.

Dengan hujan yang masih membaptis daratan, mainan kunci yang aku dapat lalu dicolong oleh temanku, lalu masukan dari seorang yang tak aku kenal Minggu lalu masih berbusa dan selalu ingin aku abaikan namun tak bisa. Perlahan aku menjelma selayaknya Rahib yang dikultus untuk memberi makna pada setiap detiknya. Meski mantra aku tidak punya, namun hatiku selalu merapal yang entah apa artinya.

Dalam kehidupan yang tidak begitu nyata, genap, pertemuan bagiku hanyalah omong kosong sebelum menjadi rahasia kapan lagi akan berjumpa. Untuk itu aku lebih memilih menghabiskan waktu sendirian.

"Seseorang ingin bertemu?"

Satu notif mengudara di layar ponselku. Tidak ada nama, itu cinta dari masa lalu yang masih ingin beradaptasi pada zaman yang sudah maju. Tunggu dulu, aku masih punya banyak kekuatan untuk mengabaikan jurus tersebut. Aku abaikan. Tuhan tahu aku mampu makanya dikasih cobaan seperti itu.

Buku Akar bulan lalu yang tidak sempat untuk ditamatkan menjadi pemandu yang cocok untuk melalui waktu.

Belum ada sepuluh menit aku membaca pesan itu mulai berevolusi "Gimana kabar?" Membuyarkan konsentrasi penuh untuk tubuhku yang lumayan rapuh.

Itu bertahun-tahun lalu, lamanya. Aku sampai lupa mengapa bisa jatuh cinta dan aku juga lupa alasan apa yang membuatku tidak bisa jatuh cinta lagi. Sampai pada akhirnya aku terdampar ke titik ratusan puisi.

Komentar

Postingan Populer