Sabtu.

Sabtu.

Itu bukan akhir yang baik.

Bagaimana juga kau telah mencintainya dengan sungguh-sungguh maka tidak adil sekali rasanya jika harus merelakan kebencian karena tidak bisa bersama menjadi faktor utama. Terlepas dari apa pun alasannya, hadirnya pernah menjadi satu-satunya alasan mengapa putaran dunia terasa tidak menakutkan.

Roni tunduk lesuh. Sudah tak ada lagi harap, cintanya kandas sebelum berhasil bersandar pada teluk yang pas. Kini ia siap kembali untuk mengokang otak, memutar ulang ingatan di mana Rini masih menjadi sandaran hati.

Kami bertengkar cukup lama. Sampai salah satu dari kami tidak peduli lagi pada apa yang dirasa, Rini pergi tanpa aku tahu alasan apa untuk menggenggam tangannya kembali. Semacam ia kebal untuk setiap penjelasan. Mataku menjadi saksi betapa bengisnya langkah kaki itu, betapa mengerikannya perpisahan itu.

Aku tidak berharap banyak untuk kisah kami berdua. Tumbuh bersama dengan hal-hal yang tidak terduga mungkin adalah salah satu bencana. Diluar dari itu hanya prahara manusia.

Ada pun kisah yang serupa di luar sana mungkin akan berakhir sama atau memang ada campur tangan semesta untuk memaksa bersama.

"Itu kenangan yang manis" kataku memotong.

"Jika saja waktu bisa diputar kembali, akankah aku mengejarnya agar tidak pergi?"

"Aku tidak tahu. Namun apa pun akhirnya akan tetap sama, entah kau tidak dengannya atau kau bersama dengannya. Tidak ada yang berbeda dari sebelumnya"

Sabtu.

Roni hilang dalam petunjuk. Jangan tanya aku soal bagaimana seseorang yang hatinya patah mencari pintu keluar untuk melihat keadaan yang benar. Membenturkan kepala sedikit keras mungkin cara yang ampuh. Pun kesimpulan sederhana yang aku dapat bahwa jangan memetik buah jika belum benar-benar matang.

Sisi lain yang tidak engkau sadari.

Rini ia sengaja menangkan diri atas masalah yang ia anggap memang masalah. Kisah cintanya dengan Roni si bengal paling manis di dunia itu memang harus kandas. Paling tidak mereka sadar bahwa yang sudah seranjang belum tentu akan berhubungan jangka panjang. Untuk sesaat mungkin, itu pun kalau Roni memakai bantuan obat kuat.

Ia sandarkan semua pada jendela rumah. Mulai dari mimpi ke Jogja bersama, menghapus jadwal bercinta dalam hari-harinya dan yang paling rumit adalah bagian pada siapa lagi ia harus bermanja. Biasanya Roni selalu melakukan sentuhan kecil untuknya sebelum menjadi sentuhan yang tak terduga. Lebih dari itu Rini juga menyukainya. Tolak ukur keren yang cukup membingungkan.

"Abandira menasihatimu."

Bagaimana itu juga sudah menjadi trend yang tidak lazim. Jika ada kejadian yang harus ditiadakan maka aku akan memilih untuk tidak merasakan kesesatan. Sebab sejauh mana pun manusia itu berjalan ia akan kembali pulang di tempat di mana langkah kaki itu dimulai. Rumah, Tuhan, Kasih sayang, bukan Sange yang berkelangsungan begitu panjang. Terlebih lagi kita tidak akan membenarkan yang seharusnya salah. Tapi kalau memang saling menikmati, ya silakan saja. Namun sebaiknya jangan ya.

Komentar

Postingan Populer