PROLOG
Tuhan pada perempatan Sadang.
Purwakarta.
Malam ini cinta ku tersesat pada perjalanan yang singkat seorang manusia. Dunia yang begitu sederhana beberapa kali membuatnya lelah, kebingungan. Aku mulai menaiki lantai yang paling atas pada bangunan yang akan dijual ini. Rumah kami, tempat di mana beberapa nyawa bersatu untuk mencapai tujuannya masing-masing.
Tak ada ungkapan hebat tengah larut malam. Semua saling bernostalgia pada setiap apa yang datang. Pun aku begitu, sibuk sendiri dengan apa yang dipikirkan. Dari dalam kamar yang laintinya basah karena curah hujan tadi siang, ulahku yang lupa menutup pintu.
Aku tidak berharap banyak dari apa yang Gibran tulis pada bukunya. Malam ini aku coba menikmati apa yang ada.
Selamat tinggal waras.
Subuh telah tiba sayang, hatiku mulai menyambut hangatnya sesaat lagi. Rindu yang malam ini bersatu dengan embun akan hilang dengan hangatnya seraya menyambut mentari. Suara burung mulai melantunkan nada sederhana untuk mengawali rumitnya permasalahan manusia.
“Lantas, sedang apa engkau saat ini?”
Kalu aku masih sibuk memantaskan diri. Untuk esok hari, untuk setiap apa yang ingin kita raih. Bukankah kita akan mengendarai waktu dengan kendaraan yang tercipta atas runyamnya masa lalu dan misterinya masa depan. Tadi setelah pulang bekerja, aku mengelilingi kota. Seorang diri, untuk menikmati apa yang hilang dan apa yang aku dapati hari ini.
Aku tidak banyak menemukan hal di setiap rute yang dilalui. Beberapa di antaranya ada seorang wanita di mana ia terlihat begitu menyedihkan. Ia terlihat kebingungan, sedikit keresahan yang wanita itu pikirkan mungkin aku juga merasakannya.
Tubuhnya tidak kekurangan energi, matanya tidak buta dan telinganya mungkin tidak juga tuli. Hanya saja apa yang ia lihat terasa begitu penuh kekosongan. Aku mulai memutuskan untuk berhenti memusatkan hal-hal yang terasa masih masuk akal. Sebelum bertemu wanita itu segalanya berganti seakan tidak memiliki alasan.
Dia menatapku, menatap lelaki yang masih waras saat ia temui dulu. Aku hendak berinteraksi dengannya, ingatanku menangkap hal yang begitu kontras namun aku juga tidak bisa mengingat terlalu jauh seperti apa kami saat bertemu dulu.
Saat tatapan itu tidak beralih. Ingatanku menggali memori beberapa tahun lalu. Ya, aku berhasil mengingat semuanya. Saat di mana wanita itu masih berjalan dengan arah yang begitu pasti
Konon katanya perjalan bukan tentang siapa yang lebih dahulu mencapai tempat tujuan, tetapi siapa yang benar-benar bisa pulang tanpa membawa keraguan.
Aku paham betapa konyolnya hidup saat mulut berbicara asal, tanpa ada dasar untuk merasakan apa yang diucapkan. Lalu di situlah aku kerap berakhir menjadi ilustrasi yang abstrak, tidak bisa dicerna dengan pemikiran sederhana.
“Huaa, malam ini dingin” ucapku lalu beranjak dari tempat peristirahatan.
Wanita itu menatapku tajam, aku merenungi sisa kehidupan yang sebentar lagi padam. Seorang teman menarik kesadaranku, kami harus kembali melanjutkan sisa-sisa pekerjaan malam ini. Tuntas, aku kembali pulang.
Lalu pada bagian hidup begitu menjadi tenang? Saat mimpi-mimpi manusia begitu bising, saat harapan-harapan manusia begitu bau pesing. Seperti dulu saat orang tua memberi wejangan kepada seorang anaknya atau seperti kekasih yang menyiratkan untuk selalu setia dengan cintanya. Sebelum semua itu menjadi mati, mungkin Tuhan dengan sengaja menitipkan mesra untuk segalanya agar tidak begitu buruk saat lara itu tiba.
Aku teringat saat seorang bapak tua memintaku untuk tetap fokus pada masa depan dan tidak menghiraukan masa lalu. Tapi, apa hal itu dapat membuatku berhenti menjadi lelaki yang takut akan esok hari atau justru semakin membuatku sadar bahwa hidup sejatinya hanya pertanyaan-pertanyaan yang esok akan hilang dan hari ini begitu menakutkan.
Entah, aku tidak berani memikirkan apa pun.

Komentar
Posting Komentar